ZUHUD YANG DI LARANG

Posted by


  ZUHUD
  Yang di larang


     
Zuhud yang dilarang, yaitu zuhud yang harus dijauhi dari diri kita. Berikut adalah hal-hal yang tidak termasuk dalam kategori zuhud terhadap dunia yang harus dijauhi berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi:
  1.    Meninggalkan dunia sama sekali; Imam Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah mungkin ada yang mengira bahwa orang yang zuhud adalah orang yang meninggalkan harta, padahal tidaklah demikian. Karena meninggalkan harta dan menampakkan hidup hidup perihatin sangat mudah bagi orang yang mencintai pujian sebagai orang zuhud. Betapa banyak rahib yang setiap hari memakan makanan sedikit dan selalu tinggal di biara yang tidak berpintu, tetapi tujuan kesenangan mereka adalah agar keadaan mereka di ketahui orang dan mendapatkan pujian. Hal ini jelas tidak menunjukkan zuhud. Jadi, mengetahui kezuhudan merupakan hal yang musykil, demikian pula keadaan zuhud pada seorang yang zuhud.”                                                                                                                                                                                                              
  2.  Meninggalkan seluruh harta benda serta menjadikan kefakiran sebagai tujuan hidup. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الَيْسَ الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا بِإِضَاعَةِ الْمَالِ وَ لَا تَحْرِيمِ الْحَلَالِ                           
            “Bukanlah zuhud pada dunia dengan menyia-nyiakan harta dan mengharamkan  yang    halal.”             (HR. Tirmidzi)   
3.    Meninggalkan hal-hal mubah padahal bermanfaat; Diantara tipu daya Iblis dalam menyesatkan manusia adalah menjadikan seseorang salah sangkan bahwa zuhud ialah meninggalkan hal yang mubah padahal bermanfat. Mereka hanya makan roti tanpa tambahan gizi yang membuat tubuh menjadi sehat, agar ibadah tetap semangat. Mereka tidak mau bekerja mencari nafkah yang bermanfaat buat kesehatan mereka. Rasulullah bersabda:
“Tidak ada seorang memakan satu makanan pun lebih baik dari pada makanan yang dihasilkan oleh tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud memamakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)
Hasan Al-Bashri berkata: “Bukan termasuk zuhud terhadap dunia dengan mengharamkan yang halal dan melenyapkan harta. Namun zuhud adalah, segala yang ada di tangan Allah lebih kau percayai daripada yang ada di tanganmu.”[1]
    4. Zuhud lahiriyah; yaitu zuhud yang terlihat secara lahiriyah saja. Zuhud yang hanya tampak pada hal-hal yang nampak. Seperti sederhana, tidak mewah, seakan bersahaja, padahal sejatinya hatinya tidak mencerminkan kezuhudan yang sesungguhnya. Orang seperti ini sering memamerkan dirinya dihadapan orang agar disebut zuhud. Ketahuilah zuhud itu pada hati, dan akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari da’i.
    5. Meninggalkan pernikahan; Sebagian sufi mengatakan, “Barang siapa yang menikah berarti ia telah memasukkan dunia ke dalam rumahnya, maka waspadalah dari pernikahan.”[2]
            Mereka juga berkata, “Seorang laki-laki tidak akan mencapai derajat orang-orang shiddiqin sampai ia meninggalkan isterinya seolah-olah seperti janda, dan membiarkan anak-anaknya seolah-olah seperti anak yatim, dan dia menetap dikandang anjing.”[3] Tentu saja ini menyalahi Al-Quran dan Sunnah Nabi. Padahal baginda Muhammad sendiri melakukannya bahkan beliau memerintahkan umatnya untuk melakukan syari’at nikah, dan mengatkan barang siapa yang meninggalkannya tidak termasuk umatnya. Allah Subhanu wa Ta’alaa berfirman:
“Wahai Muhammad, katakanlah kepada manusia: “Siapakah yang berani dengan sesuka hatinya mengharamkan pakaian, makanan, dan minuman yang Allah ciptakan untuk para hamba-Nya dan hewan ternak yang di sembelih untuk di makan?” Wahai Muhammad, katakanlah: “Semua itu untuk orang-orang yang beriman guna kepentingan hidupnya di dunia ini. Kelak di akhirat, pakaian, makanan dan minuman yang enak itu khusus khusus untuk orang-orang mukmin.” Begitulah Kami jelaskan syari’at Kami dengan rinci kepada kaum yang mau mengerti syari’at kami.” (QS. Al-A’raaf 7: 32)
    Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:  “Nikah adalah bagian dari sunnahku, barangsiapa yang berpaling dari sunnahku maka bukan termasuk umatku.” (HR. Ibnu Majah)
“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian memiliki kemampuan, maka segeralah menikah, karena sesungguhnya itu lebih menjaga pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa karena hal itu akan bisa meredakan gejolak (syahwat).” (HR. Bukhari & Muslim)
POTRET ZUHUD PARA SALAF
Dahulu para nabi juga salaf melakukan zuhud sesuai dengan syari’at.  Nabi Sulaiman adalah hamba Allah yang zuhud, padahal ia memilki harta yang melimpah juga kekuasaan. Baginda Muhammad adalah manusia paling zuhud, namun beliau memiliki 9 isteri. Beliau juga bekerja. Begitu juga para sahabat-sahabat beliau, khalifah yang empat, Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam diantaranya. Mereka memiliki harta banyak namun mereka tetap zuhud. Mereka adalah orang yang paling mengerti makna zuhud dan bagaimana menerapkannya. Mereka memiliki harta yang melimpah namun mereka menginfakkannya, untuk kelancaran dakwah dan jihad. Para sahabat yang tidak memiliki harta—seperti mereka—sering iri kepada mereka disebabkan keutamaan (berinfak) yang mereka dapatkan yang tidak didapatkan oleh sahabat lainnya.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa beberapa sahabat (miskin) dari golongan muhajirin datang mengadu kepada Rasulullah, mereka berkata: “Orang-orang kaya (diantara kami) mendapat derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal (di surga).” Rasulullah bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Mereka berkata: “Mereka shalat seperti kami, puasa seperti kami dan mereka bersedekah sedang kami tidak,” kemudian Rasulullah mengajarkan kepada mereka kalimat tasbih, tahmid dan takbir, yang bisa menyamai pahala sedekah. Namun, pada kesempatan berikutnya mereka mendatangi Rasulullah, mereka berkata: “Saudara-saudara kami yang kaya mendengar (tahu) apa yang kau ajarkan kepada kami kemarin, lalu mereka pun melakukan hal sama (sebagaimana yang kami lakukan),” lalu Rasulullah bersabda:
ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء
“Itulah keutamaan dari Allah yang dinerikan kepada siapa yang Ia kehendaki.” (HR. Muslim)
Berikut adalah satu contoh zuhud dari Abu Dzar Al-Ghifari[4] sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Aliahi wa Sallam yang zuhud terhadap dunia:
Sahabat Nabi yang satu ini terkenal dengan kezuhudannya, para sahabat sering menyebut-nyebut dirinya dalam majelis-majelis ketika berbicara tentang zuhud. Beliau sering menolak harta yang diberikan kepadanya.
Suatu hari seorang mendatangi beliau lalu menawarkan bantuan harta kepanya. Lantas Abu Dzar menolak dengan berkata, “Aku sudah memiliki kambing yang dapat diperas susunya, binatang yang bisa kami kendarai, kami juga memiliki budak yang melayani kami, ditambah pakaian pakaian yang bisa kami pakai. Aku hanya hawatir jika nanti aku dihisab karena kelebihan harta. Beliau juga pernah menolak menambah jatah makan sehari-harinya lebih dari yang pernah dimilikinya semasa Rasulullah masih hidup. Itu beliau lakukan hanya semata-mata takut kalau harta itu merupakan pintu yang akan membuatnya tergantung dengannya.
Itulah hidup beliau, tidak menerima begitu saja pemberian orang. Baginya, meskipun ia sudah menunaikan hak Allah, mencarinya (harta) melalui jalan yang halal, membelanjakannya, namun harta itu bisa saja akan menangguhkan dirinya masuk ke surga nanti. Menurut beliau, pemiliki dua dirham lebih besar hisabnya di hari kiamat ketimbang pemilik satu dirham. Pada akhirnya hayatnya, beliau hanya meninggalkan dua ekor keledai betina dan satu keledai jantan, seekor domba, dan beberapa kendaraan tunggangan.
ZUHUD DAN APLIKASINYA 
Dunia itu tidak tercela secara mutlak. Ia tercela karena pengaruhnya membuat orang condong kepadanya sehingga membuat orang lalai dan memalingkan diri dari mengingat Allah. Maka hendaknya seorang muslim harus berzuhud, karena dengannya segala yang membuat orang lalai bisa diatasi. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Zuhud adalah perbuatan hati. Oleh karenanya, tidak hanya sekedar memperhatikan keadaan lahiriyah, lalu seseorang bisa dinilai sebagai orang yang zuhud. Seorang dikatakan zuhud selama kebutuhannya pada dunia tidak membuatnya lalai mengingat Allah. Seorang muslim harus bisa mengaplikasikan zuhud dalam kehidupan sehari-hari, ini dilakukan tanpa harus meninggalkan kepentingan dunia secara total.
Zuhud bisa dilakukan oleh siapa saja. seorang muslim saat berdagang/bekerja tidak perlu merasa rugi besar karena waktunya digunakan untuk berdagang jika ia tidak lalai mengingat Allah. Sebab waktunya untuk bedangang dan mencari nafkah adalah wujud dari sifat zuhudnya.  Karena ia tidak membebani orang lain. Ia bekerja agar bisa membantunya untuk taat kepada Allah. Pun demikian pula bila mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya selama tidak lalai.
Kuncinya adalah jika seseorang ingin berusaha menyucikan jiwa dan hatinya dengan zuhud, maka ia mesti memiliki ilmu dan pengetahuan yang benar tentang zuhud. Karena jika itu ada pada dirinya, maka akan memudahkan langkahnya dalam berpijak, berlandaskan agama yang kokoh.
Tidak tercela da’i yang memiliki harta banyak. Jika diperhatikan maka seharusnya da’ilah yang mesti kaya, karena ia dapat mengelola hartanya dengan baik, dan mengifakkan ke orang lain. Berikut satu kisah semoga bisa jadi pelajaran bagi kita dalam memahami arti dan aplikasi zuhud yang sebenarnya:
Abul ‘Abbas As Siraj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarak:
أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا؟
 “Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”
Ibnul Mubarak mengatakan:
يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.

 “Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku.”[5]

Imam Ahmad pernah ditanya mengenai seorang pria yang memiliki uang seribu dinar. Apakah ia adalah seorang yang zuhud? Beliau menjawab, “Ya, dengan syarat: Ia tidak bangga jika uangnya bertambah, dan tidak sedih jika berkurang.” Artinya orang kaya bukan berarti ia tidak bisa di sebut zuhud jika ia ingat Allah dan tidak mementingkan dunia.[6]  




Demo Blog NJW V2 Updated at: 14.32

0 komentar:

Posting Komentar